a

Loading...
arsip

Anak Muda: Pertanian, Antara Kebutuhan atau Harga Diri


Apakah pernah mendengar sebuah quote dari ilmuan besar, Albert Enstein mengenai “Perut kosong bukanlah penasihat politik yang baik?" Jika belum, biar penulis jelaskan sejenak. Arti dari petuah tersebut sebenarnya sangat jelas tersurat bahwa manusia atau apapun makhluk yang dianggap hidup secara pasti dan terencana akan membutuhkan asupan makanan secara periodik guna menopang kebutuhan biologis sifat seorang makhluk.

Di masa sekarang ini, faktor penting dari makanan sudah tidak dapat dibantahkan lagi, terkhusus bagi bangsa Indonesia dengan jumlah penduduk lebih kurang 250 juta penduduk. Sebagai Negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, Indonesia memiliki sebuah pekerjaan rumah yang sangat besar dalam menjamin ketercukupan pangan. Memang bukan sebuah isu lagi bahwa negara ini membutuhkan solusi, meski tidak cepat, paling tidak terencana, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan sumber daya dalam negeri pula.

Pernah penulis bertanya kepada beberapa kumpulan anak muda, mengenai apa yang sekiranya akan dilakukan apabila kondisi persawahan yang kita miliki semakin berkurang? Secara cepat -tanpa pikir panjang- beberapa dari mereka menjawab bahwa negara kita punya uang untuk meng-impor besar dan lain-lain!. Sesaat penulis setuju dengan jawaban tersebut, namun jauh di dalam pikiran, itu hanya tindakan untuk terbebas dari keterdesakan pasokan pangan secara sementara. 

Tentu, kita –yang katanya negara agraris- tidak bisa menggantungkan diri dalam keterbelengguan impor produk-produk pertanian secara massive dan terus menerus. Jika kembali mengingat sejarah, kita pernah melakukan ekspor besar ke beberapa negara karena supply kita yang besar. Terlebih dengan politik “Revolusi Hijau” yang dicetuskan pemerintahan pada masa orde baru, dengan mampu mengekspornya Indonesia yakni sebesar 1,5 juta ton beras per tahun dalam kurun waktu 1968-1984, produksi beras meningkat rata-rata 5% per tahun (Esje, Gudon dan Daniel, 1998). Meski tidak semuanya praktik kebijakan revolusi hijau berjalan sesuai rencana, tapi dibalik itu semua, kita dapat melihat adanya gairah untuk menjaga keterjaminan supply pangan untuk masyarakat.

Di era teknologi informasi sekarang ini, sudah tidak dapat dipungkiri bahwa sektor pertanian menjadi bidang usaha kesekian yang patut dipertimbangkan oleh anak-anak muda Indonesia, padahal sumbangsih sektor pertanian terhadap kondisi Produk Domestik Bruto (PDB) nasional menjadi yang ketiga terbesar setelah PDB industri pengolahan dan perdagangan, hotel, dan restoran. 

Meski masih dalam lingkup kontribusi yang besar, sejatinya sektor pertanian Indonesia dibayangi “Bom Waktu” yang dapat meledak kapanpun. Seiring dengan kesempatan kerja yang terbuka luas untuk sektor non-pertanian, sektor pertanian mulai ditinggalkan dengan dalih return of capital yang diterima tidaklah sesuai dengan yang diharapkan. Berdasarkan sensus pertanian 2013, jumlah petani secara keseluruhan menurun dari 31,23 juta pada tahun 2003 menjadi 26,14 pada tahun 2013, sedangkan untuk petani usia muda (15-24 tahun) menurun dari 5,95 juta menjadi 5,02 juta (BPS, 2013; LIPI.go.id, 2014). Meski dikatakan bahwa penurunan ini memberikan efek positif melalui berkurangnya jumlah petani gurem dan bertambahnya area lahan yang dikelola per petani, namun tetap saja dampak berantai yang ditimbulkan lebih besar terkait dengan ketahanan pangan dan kepastian bahwa anak muda sudah sangat sulit melihat pertanian sebagai sektor yang menjanjikan.

Perubahan Mindset! Upaya Holistik Pemerintah dan Masyarakat Pegiat Pertanian
Era informasi dan perkembangan teknologi lebih kurang telah memberikan dampak terhadap mindset masyarakat muda, karena banyak di antara mereka lebih memilih bekerja di bidang lain yang mencerminkan tingkat sosial lebih tinggi dan lebih memiliki keterjaminan pendapatan. Pemikiran seperti itu sebenarnya tidaklah salah, karena anak muda hanyalah orang yang berusaha mempertahankan eksistensinya untuk hidup berkecukupan. Sehingga, yang menjadi pekerjaan rumah adalah bagaimana mengubah mindset generasi muda untuk tertarik di dunia pertanian. Tentu ini membutuhkan upaya holistik yang menyeluruh dari semua komponen, tidak hanya pemerintah sebagai tumpuan utama, melainkan juga dari para pegiat pertanian untuk menarik pandangan anak muda Indonesia di bidang pertanian.

Membandingkan kondisi pertanian Indonesia dengan negara-negara maju lainnya seperti Jepang, Belgia, atau bahkan Amerika Serikat itu adalah suatu tindakan yang tidak adil. Mereka mempunyai segalanya yang secara berkesinambungan mendukung pertanian mereka untuk maju. SDM berkualifikasi tinggi, teknologi, dana penelitian dan pengembangan serta perhatian yang besar dari pemerintah dengan tata kelola yang logis, dan mindset untuk berkembang. Dari semua faktor tersebut, ada satu faktor penting yang dapat di-copy oleh Indonesia, yaitu mindset untuk berkembang. Ini adalah faktor dasar untuk mengembangkan dunia pertanian, karena sejatinya banyak dari petani kita yang kurang mau berkembang dan hanya melakukan pekerjaan sampai pada apa yang biasa mereka lakukan, contohnya petani biasanya hanya menanam, memupuk, dan terakhir memanen, tanpa ada pengembangan lainnya di sektor off-farm. Padahal, off-farm adalah sektor dengan profit margin yang paling besar. Bayangkan saja ketika petani Indonesia dapat secara holistik menanam, memanen, hingga pasca panen, entah itu hanya distribusi atau bahkan sampai ke pengolahan produk pertanian, mereka akan mendapatkan keuntungan di atas pendapatan normal yang didapatkan pada tiap musim panen.

Kendala terbesar untuk melakukan keberlangsungan pertanian off-farm dan pengolahan pasca panen adalah skill dan daya inisiatif petani. Hal ini dimaklumi karena kebanyakan petani Indonesia adalah petani yang sudah memasuki masa tua, bukan generasi muda dengan segara ekspektasi tinggi dan ide-ide baru yang terkadang militan.

Memaksa generasi muda untuk terjun di dunia pertanian bukanlah solusi terbaik. Toh ketika itu dilakukan, mereka hanya akan bertahan satu sampai dua tahun. Hal yang dibutuhkan adalah keberlangsungan, bukan hanya sekadar “nyemplung” sesaat. 

Solusi utama atas masalah ini adalah bagaimana cara untuk menarik minat generasi muda di dunia pertanian. Penulis saat ini pun masih berpikir terkait hal tersebut, namun beberapa hal yang dapat dilakukan segera adalah dengan memberikan edukasi kepada generasi muda awal atau biasa disebut dengan anak-anak sebuah edukasi dan pengenalan bidang pertanian. Paling tidak, dimulai dari keluarga dekat kita, atau dapat pula membentuk suatu wadah forum penggiat pertanian untuk saling bahu membahu melakukan gerakan pertanian, baik melalui sosialisasi ataupun acting menjadi pebisnis olah pangan pertanian. Sehingga, dengan menjadi pebisnis olah pangan yang sukses, itu akan dapat menjadi bukti nyata kepada anak-anak muda Indonesia, bahwa pertanian itu tidak hanya berakhir pada “Pemanenan” melainkan juga terdapat tahapan lain dengan profit margin yang lebih menguntungkan.

Hal tersebut tentu membutuhkan daya dukung dari pemerintah untuk membangun pertanian yang holistik, bukan hanya berfokus pada hal-hal fisik seperti teknologi, subsidi pupuk, ataupun stabilitas harga, namun juga membenahi segi mental seperti mindset dan ketertarikan generasi muda, karena hanya mereka tulang punggung pertanian Indonesia di masa mendatang.

Oleh: Bayu R. Pratama, Lulusan Pendidikan Ekonomi Akuntansi, Universitas Negeri Semarang. Saat ini penulis dan beberapa pihak sedang dalam tahap pembentukan TaniKids untuk edukasi pertanian anak-anak. 
Mari bersama membangun bangsa!

Sumber gambar: kfk.kompas.com

aku memilih

Kata orang, jadilah yang pertama.
Maka akan terkenang selamanya.
Aku memilih tidak.

Kata orang, posisikan di barisan pertama.
Dapat lebih banyak perhatian.
Aku memilih tidak.

Kata orang, pembalap harus mencapai finish pertama.
Baru bisa mengangkat piala.
Aku memilih tidak.

Kata orang, jadilah penemu yang pertama.
Maka kau akan terkenal seantero dunia.
Namun ku tegaskan lagi, aku memilih tidak dalam kasus ini.

Aku bersikukuh tak jadi yang pertama.

Aku tak peduli siapa yang pertama.
Aku tak akan menanyakan atau mengungkitnya.
Aku pun tahu, sudah ada yang silih berganti datang kepadamu pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya, baik langsung atau lewat perantara.

Kata orang, "Jadilah yang pertama, jika tidak bisa, jadilah yang terbaik, jika tidak bisa pula, jadilah yang berbeda". Aku menambahkan-jadilah yang terakhir.

Aku memilih, aku ingin jadi yang terakhir.
Iya terakhir, tak salah baca kamu.
Aku ingin jadi yg terakhir mengucapkan selamat menua, kamu.

Jam Tangan (2)

Setelah postingan kemarin tentang fungsi (modus) lain pemakaian jam tangan (1),  beberapa teman ikut urun pendapat pula tentang fungsi dan niatan memakai jam tangan. Ada yang menggunakan jam tangan layaknya fungsi kodratinya, 
"Jam tangan itu scedhule on. Apalagi untuk kita yg multitasking," ungkap Diana

Iya sih, jam tangan bisa memacu diri untuk menyelesaikan pekerjaan tepat pada waktunya. Namun, ada pula yang memakai jam tangan dengan modus lain yang unik, bukan tuntutan style atau berhubungan dengan waktu, tapi 
"Biar ga kebanyakan ngelamun kalo ujian dan Biar ada yang bisa dilirik kalau kelas ngebosenin. Lol." Pengin tertawa sekenceng-kencengnya liat komentar Ayuara ini. "Lha mbok jo kusi ngenes ko kuwi to, Nak. Sampai benda mati, jam tangan, yang bisa mengalihkan lamunanmu dan jadi objek lirikan." 

Anyway...
---

Sekitar sebulan aku tak memakai jam tangan. Berawal ketika bertugas di salah satu kampus yang dipenuhi taruna-taruni. Temenku cewek yang ditugasi meliput bareng ketakutan melihat sosok taruna tegap dan gagah dengan balutan baju ketatnya. "Kasar," katanya. Sementara aku, terkadang, sekilas melihat taruni baris-berbaris seakan melihat deretan barisan masa depan #tsah.
Lupakan paragraf di atas. 

Setelah wudlu dilanjut sholat dzuhur usai, entah kenapa ini tubuh rasanya jadi seger dan merasa gagah. Badan yang biasanya membungkuk jadi lurus, biasanya jalan merunduk pun jadi tegap, mungkin ini yang dinamakan efek pengaruh lingkungan yang dijelaskan saat pelajaran biologi dulu, atau mungkin berlaku hukum aksi-reaksi, entahlah. Berada di lingkungan sosial taruna-taruni, tubuh ini secara psikologis ikut-ikutan. 

Naasnya, ini nih, yang membuat terlena. Setelah sampai parkiran, baru sadar kalau jam yang biasanya melekat di tangan tak ada di tempat semestinya. Ku ingat-ingat, “Oh iya, mungkin ketinggal saat ambil air wudlu.” Maklum, jam kelas rendahan, tidak tahan air, belum dilatih berenang, harus dilepas saat wudlu. 

Ku bergegas menuju masjid yang berada di bagian belakang kompleks kampus itu. Lari sambil bayangin ngejar layangan putus nostalgia masa kecil di kampung. “Ah, sudah tak ada.” Ku hela nafas dan berujar dalam benak “Mungkin belum jodoh jadi yang terakhir, mungkin bakal segera ketemu yang lebih baik setelah ini.” Ketemu jam tangan yang lebih baik maksudnya, jangan pikiran ke mana-mana kamu. Jangan baper juga!
...
Dua minggu berselang, setelah gajian ...
“Mbak, jam tangan yang itu ya mbak.”
“Ini?”
“Bukan mbak, itu kemahalan. Sebelahnya, yang warna silver.”
“Ini mas, silakan coba dulu.” *sambil nyodorin jam tangan pilihanku*
“Wis, beres mbak. Cocok lah ini. (Cocok di kantong maksudnya). Tolong potong 5 ruas ya mbak, kelonggaran ini.”
“Tunggu bentar ya mas.”
(duh, dipanggil mas sama mbak-mbak penjaga toko jam, rasanya kayak ada manis-manisnya) Astaghfirullah.
...

Malam itu, sehabis pulang dari Demak, aku tak bisa tidur. Muntah-muntah mulai dari tengah malam hingga pagi hari. Entah kenapa, mungkin ini gegara kena gerimis, perut belum makan dari siang, ditambah efek dinginnya AC mobil semalaman. Seingatku, sepanjang hidup ini yang kedua kalinya aku tumbang muntah-muntah semaleman sejak tragedi di tempat KKN lima bulan silam. Kapan-kapan aku ceritakan padamu, iya kamu.

“Langsung ke dokter, kali aja keracunan,” sms dari Simak (red, ibu) sehabis subuh.
Entah kenapa pagi itu Simak sms, lalu aku cerita kalo muntah-muntah semalaman. Biasanya aku tak cerita apa-apa kalo tumbang kayak gini
“Paling cuma kelelahan, istirahat dan makan makanan yang lagi dipengini, besoknya sembuh,” batinku

Demi bakti orang ke orang tua, yakni mengikuti perintah dan tidak membuat cemas, aku ikuti nasihat itu. Ini merupakan pengalaman pertama aku ke dokter, periksa perihal kesehatan untuk diriku sendiri selama merantau di Semarang. Pertama kali pula antri di lobi Rumah Sakit, menahan muntah sambil meladeni orang ngobrol. Kebetulan orang itu Bapak dari anak didikku yang paling pintar di kelas saat aku jadi Wali Kelas. "Rela aku nahan muntah demi kamu pak. Iya, kamu bapak dari anak yang sering mewakili sekolah dalam berbagai ajang perlombaan."
...

Seminggu berselang dari pengalaman pertama antri untuk periksa diri sendiri yang berakhir di jarum infus. Jam tangan yang saat ku beli, lalu minta potong lima ruas agar pas di tangan dan itu pun masih serasa sesak, kini terasa longgar. Bahkan, telunjuk dan jari tengah pun bisa diselipin di dalam sabuk jam tangan saat dipakai. Saking longgarnya, ini jam tangan berjalan mondar-mandir melewati sendi pergelangan tangan kala dibawa rukuk-i’tidak-sujud-berdiri lagi saat taraweh. Jika diestimasi per rokaat jam tangan mondar-mandir dua kali, berarti taraweh 20 rokaat totalnya 40 kali tulang sendi pergelangan tangan ini dilangkahi oleh jam tangan.

Mungkin ini salah satu (lagi) kegunaan jam tangan bagiku. Sebagai alat kontrol, melihat seberapa pertambahan lemak dalam badan ini yang diwakili tangan. Kalo jam tangan serasa sesak, berarti sudah saatnya untuk .... *tetiba lupa mau nulis apa*
---

Pengunjung yang baik adalah yang meninggalkan jejak.