Kedelai, Impor dan Rekayasa

Amerika merupakan salah satu pengekspor komoditas pangan ke pasar internasional. Total ekspor komoditas pertanian AS mulai tahun 2011 hingga tahun 2014 mengalami fluktuasi. Tahun 2011 hingga 2013 mengalami penurunan terus-menerus dari titik 180.586.377 ton pada tahun 2011 menjadi 170.508.976 ton pada tahun 2013. Tetapi mengalami kenaikan yang cukup signifikan pada tahun 2014 mencapai 209.605.457 ton yang menjadi titik paling tinggi sejak empat tahun terakhir.
Tabel 1.1 Ekspor Komoditas Pertanian Amerika Serikat
Sumber: Data diolah dari USDA (Maret 2016)
Walaupun secara kuantitas mengalami penurunan, tetapi secara nilai mengalami kenaikan terus-menerus. Ekspor komoditas pertanian AS ke negara-negara di dunia secara nilai mengalami kenaikan mulai tahun 2011 hingga tahun 2014. Secara beturut-turut total ekspor komoditas AS pada tahun 2011, 2012, dan 2013 sebesar US$136.444.449, US$141.550.211, dan US$144.359.309. Sedangkan posisi tertinggi tahun 2014 mencapai US$150.014.539.
Sebagai contoh konkret rincian data impor pertanian, peneliti mengambil Indonesia dan komoditas kedelai. Guna mencukupi kebutuhan pangan, Indonesia melakukan berbagai upaya seperti menggenjot produksi pangan dalam negeri. Namun, di Indonesia masih ada beberapa komoditas pangan yang tingkat konsumsinya tinggi tapi tingkat produksi rendah. Komoditas yang masih kekurangan tersebut antara lain: gandum, kedelai, gula, dan jagung. Salah satu upaya untuk mengatasi kekurangan tersebut, pemerintah melakukan impor dari negara lain. Menurut data yang dilansir oleh Statistik FAO, impor Indonesia yang paling besar tahun 2011 adalah gandum sebagai bahan pokok tepung terigu sebesar 5.6 juta ton. Diikuti oleh Jagung sebesar 3.2 juta ton, cake of soybeans (2,9 juta ton), gula (2,3 juta ton), dan kedelai sebesar 2 juta ton (lihat tabel 1.2).
Table 1.2 Impor Komoditas Pangan Indonesia Tahun 2011
Sumber: diolah dari http://faostat.fao.org

Salah satu komoditas yang diimpor dari pasar luar negeri hingga saat ini karena tingginya permintaan dalam negeri adalah kedelai. Dari berbagai komoditas tersebut, memang kedelai bukan komoditas yang paling banyak kuantitasnya dan bukan merupakan bahan makanan pokok, tapi kebutuhan akan kedelai di Indonesia terbilang masih besar. Kebutuhan tersebut sebagian besar digunakan untuk mencukupi sumber bahan pangan protein nabati masyarakat seperti bahan baku berbagai makanan khas Indonesia seperti tahu dan tempe. Selain itu, kedelai juga digunakan untuk memenuhi protein nabati peternakan. Sama halnya dengan manusia yang selalu membutuhkan sumber-sumber makanan, ternak, terutama ternak unggas, juga membutuhkan kedelai untuk mencukupi kebutuhan gizinya.[1]

Table 1.3 Volume Impor Kedelai Indonesia 2004-2011
Sumber: diolah dari http://soystats.com
Berdasarkan pada Tabel 1.3 di atas, jumlah kedelai yang masuk ke pasar domestik Indonesia mengalami peningkatan tajam setelah tahun 2007. Kendati turun pada tahun 2008, tahun-tahun berikutnya mengalami peningkatan terus-menerus hingga tahun 2011 mencapai 2.08 juta ton.
Table 1.4 Produsen Kedelai Dunia tahun 2014
No.
Negara
Juta bushel[2]
Juta metrik ton
1.
Amerika Serikat
3.968
108,0
2.
Brasil
3.472
94,5
3.
Argentina
2.058
56,0
4.
Tiongkok
454
12,4
5.
India
386
10,5
6.
Paraguay
312
8,5
7.
Kanada
222
6,1
8.
Lainnya
713
19,4
Total
11.585
315,4
Sumber: diolah dari http://soystats.com
Di dunia, negara-negara yang menjadi produsen kedelai terbesar adalah AS diikuti Brasil, Argentina, Tiongkok dan India. Sedangkan untuk negara yang menguasai pasar kedelai dunia adalah pemain-pemain lama yakni negara-negara seperti AS, Brasil, Argentina, Tiongkok, dan India (http://faostat.fao.org/, 2015). Tahun 2014, AS menjadi negara produsen utama yang dapat mengekspor kedelai ke pasar internasional yang mencapai 41%, yang kemudian diikuti oleh Brasil sebesar 39%, Argentina 7%, Paraguay 4%, Kanada 3%, dan lainnya 6% (http://faostat.fao.org/, 2015). Di sini terlihat pergeseran, Tiongkok yang merupakan lima besar produsen terbesar. Tapi dalam perdagangan internasional tidak menjadi lima besar eksportir kedelai. Ini membuktikan bahwa konsumsi kedelai Tiongkok juga tinggi.
                        Tabel 1.5 Eksportir Kedelai Dunia tahun 2014
Sumber: diolah dari http://soystats.com
Berbeda dengan negara-negara importir tersebut yang bisa mengekspor, Indonesia justru mengimpor kedelai. Pasokan kedelai Indonesia antara lain diperoleh dari beberapa negara seperti AS, Argentina, Brasil, Malaysia, dan India. Pasokan kedelai impor Indonesia paling banyak didominasi oleh kedelai yang berasal dari AS. Negara tersebut menguasai lebih dari setengah dari keseluruhan perdagangan kedelai di Indonesia dengan share sebesar 72%, diikuti oleh Argentina 11%, Brasil 6%, Malaysia 4%, India 1% dan lainnya sebesar 6% (Azky). Bahkan, seperti yang diungkapkan oleh Robert O Blake, duta besar AS untuk Indonesia, tahun 2013, 90% kacang kedelai yang digunakan bahan baku tempe dan tahu Indonesia diimpor dari AS (www.tempo.com, 2014). Pernyataan Blake ini dikuatkan diperkuat dengan data yang dilangsir oleh lembaga statistik khusus kedelai dari AS. Indonesia masuk dalam tiga besar negara tujuan ekspor kedelai AS (http://faostat.fao.org). Indonesia menjadi negara importir kedelai dari AS senilai $ 1 juta dolar US pada tahun 2014.
Table 1.6 Pasar Kedelai AS

Sumber: diolah dari http://soystats.com
Kedelai AS pada dasarnya berbeda dengan kedelai lokal. Dari segi kualitas, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Menurut Maman Suparman, salah seorang ahli pertanian, kedelai lokal unggul dari kedelai AS dalam hal bahan baku pembuatan tahu. Rasa tahu lebih lezat, rendemennya (keuntungan) pun lebih tinggi. Selain itu, risiko terhadap kesehatan cukup rendah karena bukan benih transgenik, berbeda dengan kedelai AS. Meski demikian, sebagai bahan baku tahu, kedelai lokal memiliki kelemahan, terutama untuk bahan baku tempe. Penyebabnya, ukuran kecil atau tidak seragam dan kurang bersih. Selain itu, kulit ari kacang sulit terkelupas saat proses pencucian kedelai, dan proses peragiannya pun lebih lama. Setelah berbentuk tempe, proses pengukusan lebih lama empuknya, bahkan bisa kurang empuk. Sejalan dengan Maman Suparman, seorang ahli gizi dan pengamat tempe Indonesia asal Inggris, Jonathan Agranof, menyatakan bahwa secara umum produk kedelai dari Indonesia lebih baik daripada kedelai impor asal AS.
“Keunggulan kedelai Indonesia adalah tidak modifikasi genetik, organik, rasa kedelainya enak, dan air rendaman kedelainya pun jernih. Australia dan negara-negara di Eropa enggan mengimpor kedelai dari AS karena faktor genetik modifikasi (GM), yang mempunyai dampak negatif pada kesehatan.” (Mardiani, 2012)

Dari contoh tersebut, bisa dinyatakan bahwa kedelai dari AS kendati memiliki beberapa kekurangan akan tetapi pasar kedelai impor di Indonesia masih didominasi oleh AS. Ironisnya, AS merupakan salah satu negara yang mengembangkan Genetically Modified Organism (GMO) dalam produksi komoditas pertaniannya. Bukan hanya kedelai, komoditas lainnya seperti jagung dan kapas juga termasuk komoditas pertanian yang paling banyak dikembangkan di AS menggunakan teknologi GMO.
GMO sendiri merupakan efek dari merambahnya teknologi dalam bidang produksi produk pangan (pertanian dan perikanan) seperti genetic modified (rekayasa genetik). Rekayasa genetik ini menghasilkan beberapa produk pertanian dengan varietas unggul, seperti tanaman yang secara alaminya mudah terserang hama menjadi kebal hama, produksi rendah menjadi tinggi, umur panen panjang menjadi tinggi. Jenis produk ini biasa disebut dengan GMO. Oleh karena itu, teknologi dapat meningkatkan produksi produk pangan sehingga dapat mencukupi kebutuhan manusia. Argumen ini yang digunakan oleh AS guna membenarkan penggunaan teknologi rekayasa genetik dalam pengembangan dan produksi komoditas pangan pertanian.
Di lain sisi, jaminan kesehatan akan produk GMO seperti kedelai tersebut masih belum terjamin. Salah seorang ahli dalam bidang rekayasa genetik, Jeffrey M. Smith dalam Seeds of Deception and Genetic Roulette menyebutkan setidaknya ada 65 resiko kesehatan serius akibat mengkonsumsi produk GMO. Setelah Smith melakukan pengujian terhadap tikus, menyimpulkan bahwa ada gangguan yang diderita tikus setelah diberi makan GMO. Tikus merupakan salah satu hewan yang struktur pencernaannya mirip dengan manusia. Jadi tidak menutup kemungkinan jika risiko-risiko tersebut akan terjadi juga pada manusia. Dengan mengkonsumsi makanan hasil rekayasa genetik selama beberapa generasi, kemungkinan mendapatkan efek negatif sangat terbuka lebar. Bahkan, menurut Smith antara tahun 1994-2001 terjadi fenomena yang mengejutkan. Dimana penyakit yang berhubungan dengan makanan mengalami peningkatan dua kali lipat bersamaan dengan produk GMO membanjiri pasar. Produk hasil rekayasa genetik di dunia ini cukup banyak. Apalagi jika berupa produk pangan yang berkaitan langsung dengan kehidupan manusia. Menurut Mae Wan Ho (2005: xiii), tanaman hasil rekayasa genetik bukan saja tidak berguna tetapi juga berbahaya bagi kesehatan dan tidak baik untuk lingkungan.
Beberapa kawasan di dunia ini telah menyatakan sebagai kawasan bebas dari produk rekayasa genetik, terutama di Eropa. 172 kawasan dan provinsi di Eropa telah menyatakan dirinya Zona Bebas Rekayasa Genetik (Genetic Modified Free Zone). Lebih dari 4.500 pemerintah daerah juga meminta pembatasan terhadap penanaman produk hasil rekayasa genetik komersial (Mae Wan Ho, 2005: xii). Namun, masih banyak negara yang kurang perhatian dengan isu ini. Dibuktikan dengan maraknya produk rekayasa genetik di negara-negara berkembang, Indonesia juga.
Isu keamanan pangan termasuk pangan rekayasa genetik menjadi konsen di beberapa negara maju seperti Australia, New Zealand, dan beberapa negara Eropa. Negara mengupayakan semaksimal mungkin guna melindungi warga negaranya untuk meminimalisir dampak dari GMO. Namun, berbeda dengan kondisi di negara berkembang. Negara berkembang memiliki kecenderungan hanya fokus terhadap ketercukupan pangan belum ke keamanan pangan. Dalam artian mementingkan kuantitas dan belum kualitas.
Walaupun negara berkembang belum bisa memastikan keamanan produk pangan yang berupa komoditas pertanian tetapi negara tetap harus menjamin keterbukaan informasi. Dalam kajian ini akan difokuskan komoditas pertanian impor, sehingga keterbukaan informasi dapat dibebankan negara kepada produsen di luar negeri (negera importir).
GMO dari AS menyebar ke berbagai penjuru dunia, termasuk negara-negara berkembang. Oleh karena itu pemerintah negara-negara berkembang harus cermati mengenai teknologi rekayasa genetika untuk produksi pangan yang belum diketahui pasti keamanannya bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Namun, selama ini kedelai impor terutama yang berasal dari AS masih beredar di pasar dalam negeri negara-negara berkembang termasuk Indonesia tanpa label. Sehingga konsumen tidak tahu apakah barang yang dikonsumsinya adalah GMO atau tidak.
Lalu, jangan lupa tetap makan tempe dan tahu, baca basmallah dulu ya. :)



[1] Hewan ternak seperti unggas dan sapi juga membutuhkan kedelai untuk memenuhi kebutuhan protein tubuhnya. Akan tetapi kedelai yang digunakan adalah bungkilnya, atau ampas kedelai yang telah diambil lemaknya. Sekitar 40% bahan pakan ternak masih merupakan bahan impor. Karena kedelai memang sulit diproduksi sendiri karena keterbatasan iklim di Indonesia.
[2] Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bushel atau gantang adalah satuan ukuran isi atau takaran 3,125 kg, biasanya untuk menakar atau menyukat beras, kacang-kacangan, dan sebagainya.

Anak Muda: Pertanian, Antara Kebutuhan atau Harga Diri


Apakah pernah mendengar sebuah quote dari ilmuan besar, Albert Enstein mengenai “Perut kosong bukanlah penasihat politik yang baik?" Jika belum, biar penulis jelaskan sejenak. Arti dari petuah tersebut sebenarnya sangat jelas tersurat bahwa manusia atau apapun makhluk yang dianggap hidup secara pasti dan terencana akan membutuhkan asupan makanan secara periodik guna menopang kebutuhan biologis sifat seorang makhluk.

Di masa sekarang ini, faktor penting dari makanan sudah tidak dapat dibantahkan lagi, terkhusus bagi bangsa Indonesia dengan jumlah penduduk lebih kurang 250 juta penduduk. Sebagai Negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, Indonesia memiliki sebuah pekerjaan rumah yang sangat besar dalam menjamin ketercukupan pangan. Memang bukan sebuah isu lagi bahwa negara ini membutuhkan solusi, meski tidak cepat, paling tidak terencana, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan sumber daya dalam negeri pula.

Pernah penulis bertanya kepada beberapa kumpulan anak muda, mengenai apa yang sekiranya akan dilakukan apabila kondisi persawahan yang kita miliki semakin berkurang? Secara cepat -tanpa pikir panjang- beberapa dari mereka menjawab bahwa negara kita punya uang untuk meng-impor besar dan lain-lain!. Sesaat penulis setuju dengan jawaban tersebut, namun jauh di dalam pikiran, itu hanya tindakan untuk terbebas dari keterdesakan pasokan pangan secara sementara. 

Tentu, kita –yang katanya negara agraris- tidak bisa menggantungkan diri dalam keterbelengguan impor produk-produk pertanian secara massive dan terus menerus. Jika kembali mengingat sejarah, kita pernah melakukan ekspor besar ke beberapa negara karena supply kita yang besar. Terlebih dengan politik “Revolusi Hijau” yang dicetuskan pemerintahan pada masa orde baru, dengan mampu mengekspornya Indonesia yakni sebesar 1,5 juta ton beras per tahun dalam kurun waktu 1968-1984, produksi beras meningkat rata-rata 5% per tahun (Esje, Gudon dan Daniel, 1998). Meski tidak semuanya praktik kebijakan revolusi hijau berjalan sesuai rencana, tapi dibalik itu semua, kita dapat melihat adanya gairah untuk menjaga keterjaminan supply pangan untuk masyarakat.

Di era teknologi informasi sekarang ini, sudah tidak dapat dipungkiri bahwa sektor pertanian menjadi bidang usaha kesekian yang patut dipertimbangkan oleh anak-anak muda Indonesia, padahal sumbangsih sektor pertanian terhadap kondisi Produk Domestik Bruto (PDB) nasional menjadi yang ketiga terbesar setelah PDB industri pengolahan dan perdagangan, hotel, dan restoran. 

Meski masih dalam lingkup kontribusi yang besar, sejatinya sektor pertanian Indonesia dibayangi “Bom Waktu” yang dapat meledak kapanpun. Seiring dengan kesempatan kerja yang terbuka luas untuk sektor non-pertanian, sektor pertanian mulai ditinggalkan dengan dalih return of capital yang diterima tidaklah sesuai dengan yang diharapkan. Berdasarkan sensus pertanian 2013, jumlah petani secara keseluruhan menurun dari 31,23 juta pada tahun 2003 menjadi 26,14 pada tahun 2013, sedangkan untuk petani usia muda (15-24 tahun) menurun dari 5,95 juta menjadi 5,02 juta (BPS, 2013; LIPI.go.id, 2014). Meski dikatakan bahwa penurunan ini memberikan efek positif melalui berkurangnya jumlah petani gurem dan bertambahnya area lahan yang dikelola per petani, namun tetap saja dampak berantai yang ditimbulkan lebih besar terkait dengan ketahanan pangan dan kepastian bahwa anak muda sudah sangat sulit melihat pertanian sebagai sektor yang menjanjikan.

Perubahan Mindset! Upaya Holistik Pemerintah dan Masyarakat Pegiat Pertanian
Era informasi dan perkembangan teknologi lebih kurang telah memberikan dampak terhadap mindset masyarakat muda, karena banyak di antara mereka lebih memilih bekerja di bidang lain yang mencerminkan tingkat sosial lebih tinggi dan lebih memiliki keterjaminan pendapatan. Pemikiran seperti itu sebenarnya tidaklah salah, karena anak muda hanyalah orang yang berusaha mempertahankan eksistensinya untuk hidup berkecukupan. Sehingga, yang menjadi pekerjaan rumah adalah bagaimana mengubah mindset generasi muda untuk tertarik di dunia pertanian. Tentu ini membutuhkan upaya holistik yang menyeluruh dari semua komponen, tidak hanya pemerintah sebagai tumpuan utama, melainkan juga dari para pegiat pertanian untuk menarik pandangan anak muda Indonesia di bidang pertanian.

Membandingkan kondisi pertanian Indonesia dengan negara-negara maju lainnya seperti Jepang, Belgia, atau bahkan Amerika Serikat itu adalah suatu tindakan yang tidak adil. Mereka mempunyai segalanya yang secara berkesinambungan mendukung pertanian mereka untuk maju. SDM berkualifikasi tinggi, teknologi, dana penelitian dan pengembangan serta perhatian yang besar dari pemerintah dengan tata kelola yang logis, dan mindset untuk berkembang. Dari semua faktor tersebut, ada satu faktor penting yang dapat di-copy oleh Indonesia, yaitu mindset untuk berkembang. Ini adalah faktor dasar untuk mengembangkan dunia pertanian, karena sejatinya banyak dari petani kita yang kurang mau berkembang dan hanya melakukan pekerjaan sampai pada apa yang biasa mereka lakukan, contohnya petani biasanya hanya menanam, memupuk, dan terakhir memanen, tanpa ada pengembangan lainnya di sektor off-farm. Padahal, off-farm adalah sektor dengan profit margin yang paling besar. Bayangkan saja ketika petani Indonesia dapat secara holistik menanam, memanen, hingga pasca panen, entah itu hanya distribusi atau bahkan sampai ke pengolahan produk pertanian, mereka akan mendapatkan keuntungan di atas pendapatan normal yang didapatkan pada tiap musim panen.

Kendala terbesar untuk melakukan keberlangsungan pertanian off-farm dan pengolahan pasca panen adalah skill dan daya inisiatif petani. Hal ini dimaklumi karena kebanyakan petani Indonesia adalah petani yang sudah memasuki masa tua, bukan generasi muda dengan segara ekspektasi tinggi dan ide-ide baru yang terkadang militan.

Memaksa generasi muda untuk terjun di dunia pertanian bukanlah solusi terbaik. Toh ketika itu dilakukan, mereka hanya akan bertahan satu sampai dua tahun. Hal yang dibutuhkan adalah keberlangsungan, bukan hanya sekadar “nyemplung” sesaat. 

Solusi utama atas masalah ini adalah bagaimana cara untuk menarik minat generasi muda di dunia pertanian. Penulis saat ini pun masih berpikir terkait hal tersebut, namun beberapa hal yang dapat dilakukan segera adalah dengan memberikan edukasi kepada generasi muda awal atau biasa disebut dengan anak-anak sebuah edukasi dan pengenalan bidang pertanian. Paling tidak, dimulai dari keluarga dekat kita, atau dapat pula membentuk suatu wadah forum penggiat pertanian untuk saling bahu membahu melakukan gerakan pertanian, baik melalui sosialisasi ataupun acting menjadi pebisnis olah pangan pertanian. Sehingga, dengan menjadi pebisnis olah pangan yang sukses, itu akan dapat menjadi bukti nyata kepada anak-anak muda Indonesia, bahwa pertanian itu tidak hanya berakhir pada “Pemanenan” melainkan juga terdapat tahapan lain dengan profit margin yang lebih menguntungkan.

Hal tersebut tentu membutuhkan daya dukung dari pemerintah untuk membangun pertanian yang holistik, bukan hanya berfokus pada hal-hal fisik seperti teknologi, subsidi pupuk, ataupun stabilitas harga, namun juga membenahi segi mental seperti mindset dan ketertarikan generasi muda, karena hanya mereka tulang punggung pertanian Indonesia di masa mendatang.

Oleh: Bayu R. Pratama, Lulusan Pendidikan Ekonomi Akuntansi, Universitas Negeri Semarang. Saat ini penulis dan beberapa pihak sedang dalam tahap pembentukan TaniKids untuk edukasi pertanian anak-anak. 
Mari bersama membangun bangsa!

Sumber gambar: kfk.kompas.com

aku memilih

Kata orang, jadilah yang pertama.
Maka akan terkenang selamanya.
Aku memilih tidak.

Kata orang, posisikan di barisan pertama.
Dapat lebih banyak perhatian.
Aku memilih tidak.

Kata orang, pembalap harus mencapai finish pertama.
Baru bisa mengangkat piala.
Aku memilih tidak.

Kata orang, jadilah penemu yang pertama.
Maka kau akan terkenal seantero dunia.
Namun ku tegaskan lagi, aku memilih tidak dalam kasus ini.

Aku bersikukuh tak jadi yang pertama.

Aku tak peduli siapa yang pertama.
Aku tak akan menanyakan atau mengungkitnya.
Aku pun tahu, sudah ada yang silih berganti datang kepadamu pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya, baik langsung atau lewat perantara.

Kata orang, "Jadilah yang pertama, jika tidak bisa, jadilah yang terbaik, jika tidak bisa pula, jadilah yang berbeda". Aku menambahkan-jadilah yang terakhir.

Aku memilih, aku ingin jadi yang terakhir.
Iya terakhir, tak salah baca kamu.
Aku ingin jadi yg terakhir mengucapkan selamat menua, kamu.

Jam Tangan (2)

tees.co.id


setelah postingan kemarin tentang fungsi (modus) lain pemakaian jam tangan (1),  beberapa teman ikut urun pendapat pula tentang fungsi dan niatan memakai jam tangan. ada yang menggunakan jam tangan layaknya fungsi kodratinya, 
"jam tangan itu scedhule on. apalagi untuk kita yg multitasking," ungkap diana

iya sih, jam tangan bisa memacu diri untuk menyelesaikan pekerjaan tepat pada waktunya. namun, ada pula yang memakai jam tangan dengan modus lain yang unik, bukan tuntutan style atau berhubungan dengan waktu, tapi 
"biar ga kebanyakan ngelamun kalo ujian dan biar ada yang bisa dilirik kalau kelas ngebosenin. lol." pengin tertawa sekenceng-kencengnya liat komentar ayuara ini. "lha mbok jo kusi ngenes ko kuwi to, nak. sampai benda mati, jam tangan, yang bisa mengalihkan lamunanmu dan jadi objek lirikan." 

anyway...
---

sekitar sebulan aku tak memakai jam tangan. berawal ketika bertugas (liputan salah satu majalah) di salah satu kampus yang dipenuhi taruna-taruni. temenku cewek yang ditugasi meliput bareng ketakutan melihat sosok taruna tegap dan gagah dengan balutan baju ketatnya. "kasar," katanya. sementara aku, terkadang, sekilas melihat taruni baris-berbaris seakan melihat deretan barisan masa depan #tsah.
lupakan paragraf di atas. 

setelah wudlu dilanjut sholat dzuhur usai, entah kenapa ini tubuh rasanya jadi seger dan merasa gagah. badan yang biasanya membungkuk jadi lurus, biasanya jalan merunduk pun jadi tegap, mungkin ini yang dinamakan efek pengaruh lingkungan yang dijelaskan saat pelajaran biologi dulu, atau mungkin berlaku hukum aksi-reaksi, entahlah. berada di lingkungan sosial taruna-taruni, tubuh ini secara psikologis ikut-ikutan. 

naasnya, ini nih, yang membuat terlena. setelah sampai parkiran, baru sadar kalau jam yang biasanya melekat di tangan tak ada di tempat semestinya. ku ingat-ingat, “oh iya, mungkin ketinggal saat ambil air wudlu.” maklum, jam kelas rendahan, tidak tahan air, belum dilatih berenang, harus dilepas saat wudlu. 

ku bergegas menuju masjid yang berada di bagian belakang kompleks kampus itu. lari sambil bayangin ngejar layangan putus nostalgia masa kecil di kampung. “ah, sudah tak ada.” ku hela nafas dan berujar dalam benak “mungkin belum jodoh jadi yang terakhir, mungkin bakal segera ketemu yang lebih baik setelah ini.” ketemu jam tangan yang lebih baik maksudnya, jangan pikiran ke mana-mana kamu. jangan baper juga!
...
dua minggu berselang, setelah gajian ...
“mbak, jam tangan yang itu ya mbak.”
“ini?”
“bukan mbak, sebelahnya, yang warna silver.”
“ini mas, silakan coba dulu.” *sambil nyodorin jam tangan pilihanku*
“wis, beres mbak. cocok lah ini. (cocok di kantong maksudnya). tolong potong 5 ruas ya mbak, kelonggaran ini.”
“tunggu bentar ya mas.”
(duh, dipanggil mas sama mbak-mbak penjaga toko jam, rasanya kayak ada manis-manisnya) astaghfirullah.
...

malam itu, sehabis pulang dari Demak, aku tak bisa tidur. muntah-muntah mulai dari tengah malam hingga pagi hari. entah kenapa, mungkin ini gegara kena gerimis, perut belum makan dari siang, ditambah efek dinginnya AC mobil semalaman. seingatku, sepanjang hidup ini yang kedua kalinya aku tumbang muntah-muntah semaleman sejak tragedi di tempat KKN lima bulan silam. kapan-kapan aku ceritakan padamu, iya kamu.

“langsung ke dokter, kali aja keracunan,” sms dari Simak (red, ibu) sehabis subuh.
entah kenapa pagi itu Simak sms, lalu aku cerita kalo muntah-muntah semalaman. biasanya aku tak cerita apa-apa kalo tumbang kayak gini
“paling cuma kelelahan, istirahat dan makan makanan yang lagi dipengini, besoknya sembuh,” batinku

demi bakti orang ke orang tua, yakni mengikuti perintah dan tidak membuat cemas, aku ikuti nasihat itu. ini merupakan pengalaman pertama aku ke dokter, periksa perihal kesehatan untuk diriku sendiri selama merantau di Semarang. pertama kali pula antri di lobi Rumah Sakit, menahan muntah sambil meladeni orang ngobrol. kebetulan orang itu Bapak dari anak didikku yang paling pintar di kelas saat aku jadi Wali Kelas. "rela aku nahan muntah demi kamu pak. iya, kamu bapak dari anak yang sering mewakili sekolah dalam berbagai ajang perlombaan."
...

seminggu berselang dari pengalaman pertama antri untuk periksa diri sendiri yang berakhir di jarum infus. jam tangan yang saat ku beli, lalu minta potong lima ruas agar pas di tangan dan itu pun masih serasa sesak, kini terasa longgar. bahkan, telunjuk dan jari tengah pun bisa diselipin di dalam sabuk jam tangan saat dipakai. saking longgarnya, ini jam tangan berjalan mondar-mandir melewati sendi pergelangan tangan kala dibawa rukuk-i’tidak-sujud-berdiri lagi saat taraweh. jika diestimasi per rokaat jam tangan mondar-mandir dua kali, berarti taraweh 20 rokaat totalnya 40 kali tulang sendi pergelangan tangan ini dilangkahi oleh jam tangan.

mungkin ini salah satu (lagi) kegunaan jam tangan bagiku. sebagai alat kontrol, melihat seberapa pertambahan lemak dalam badan ini yang diwakili tangan. kalo jam tangan serasa sesak, berarti sudah saatnya untuk .... *tetiba lupa mau nulis apa*
---

pengunjung yang baik adalah yang meninggalkan jejak.